Hati-hati dengan Hati



Kalau hati siapa yang tau?, hanya Tuhan dan diri sendiri yang tau. Pertanyaan yang paling menjawab. Begitu, sering saya dengar kalau bicara soal hati. Urusan hati kadang menjadi sensitif, manakala melibatkan perasaan didalamnya. Hati dan perasaan apakah keduanya satu? Kalau hati adalah bagian dari organ tubuh manusia, sedangkan perasaan adalah rasa, jelas beda, namun satu kesatuan. Tetapi kalau hati dan perasaan adalah sama, sama-sama keluar dari dalam diri manusia, lalu bagaimana untuk menempatkan posisi masing-masing? Barangkali perasaan itu sama halnya seperti insting pada hewan. Hewan mempunyai hati, namun tidak mempunyai perasaan. Hewan bisa saja merawat anaknya, namun bisa juga memakan anaknya sendiri, lantaran tak ada lagi sumber makanan yang bisa dimakan.

Bagaimana dengan ini, perasaan saya, pernah ketemu dengan orang itu, tapi dimana ya?. Seseorang yang mungkin pernah ia jumpai, tetapi masih ragu-ragu, apakah betul bertemu dengan seseorang itu. Perasaan yang di rasa berhadapan-hadapan dengan diri yang lupa-lupa ingat.

Ada juga emosi, empati, kasih sayang, cinta. Kalau hal tersebut ini merupakan hasil dari hati, berarti keberadaannya sebagai produk, rupa produk perasaan. Dari mata turun ke hati, ini proses, proses untuk mengetahui dari mata yang melihat objek, dari hasil pengamatan mata kemudian masuk diolah hati, menjadi perasaan suka dan tidak suka. Semua ini pastinya adalah berasal dari hati, hati manusia. Kalau terjadi perbedaan, hanya masalah tafsir, arti, posisi, kedudukan hal.

Untuk melihat hati, saya mengutip apa yang dikutip oleh Annemarie Schimmel, Islamolog Jerman, dalam buku Rahasia Wajah Suci Ilahi, (1995: 25). Al-Hakîm At-Tirmizî (w. 279 H), menerangkan tentang lingkaran empat-lapisan hati:

Pertama; Dada, shadr, dikaitkan dengan Islam (QS. 39:22), unsur institusional-internal dari agama-agama. 

Kedua; Qalb, sebagai teman iman, ‘keyakinan’ (QS. 49:7): hati adalah anggota badan yang melaluinya iman yang sejati, interiorasi bentuk agama yang diterima secara lahiriah semata, dapat dicapai; karenannya ia merupakan organ bagi aspek ruhaniah kehidupan beragama. 

Ketiga; Fu’âd, hati yang lebih dalam, adalah tempat ma’rifat, pengetahuan ma’rifat-intuitif (QS. 53:11); itu berarti, di sini, pengetahuan ilahiah langsung dari Kami’ (QS. 18:65) dapat diwujudkan.

Keempat; Lubb, intisari hati yang paling dalam, yang merupakan tempat bersemayamnya tawhîd (QS. 3:190) yaitu pengalaman bahwa hanya ada yang Esa yang tiada sekutunya sejak zaman azali sebelumnya hingga masa abadi yang akan datang, dapat dilihat dan tampak nyata hanya ketika Dia membukakan diri-Nya pada umat manusia.

Kalau di ibaratkan empat-lapisan hati seperti Istana. Bangunan Istana memiliki beberapa lokasi tempat yang berbeda. Pertama, bangunan paling luar adalah halaman, alun-alun. Sama seperti dada, shadr, lapisan paling luar dari hati. Semua orang bisa melihat, bisa menggunakan halaman, alun-alun untuk berjualan, berolahraga, lokasi untuk umum, sama seperti melihat dada seseorang.

Kedua, masuk ke dalam setelah melewati halaman, alun-alun, ada pendopo, tempat dimana sang Raja menemui tamu, tempat berkumpul dengan rakyat, tempat pertunjukan seni dan sebagainya, tentunya setelah memenuhi prosedural Istana. Pendopo difungsikan dalam acara-acara resmi kerajaan. Tingkatan Qalb lebih satu tingkat ke dalam dari pada dada, shadr, sama seperti pendopo Istana.

Masuk ke dalam lagi dari Istana ada ruangan-ruangan. Baik yang diperuntukkan untuk menyimpan barang-barang Istana, ataupun kamar-kamar penghuni Istana. Kamar paling penting adalah kamar Raja, disitulah fu’âd. Kamar Raja sebagai fu’âd berada dalam posisi ketiga dari Istana, tak sembarang orang bisa masuk ke kamar Raja. Paling-paling hanya permaisuri. Sedangkan harem-harem biasanya di tempat khusus lagi. Kamar Raja khusus untuk Raja dan orang-orang yang diperkenankan oleh Raja sendiri untuk dapat memasukinya. Begitu khususnya kamar Raja ini, siapa yang berani melanggar, fatal akibatnya.

Terakhir, posisi lubb, lokasi keempat khusus hanya Raja yang tau, tempat di dalam kamar Raja. Dimana Raja meletakkan barang sesuatu yang penting, istimewa, paling berharga dari Istana dan juga diri Raja sendiri. Urusan yang tau hanya Raja dan Tuhan. Sebuah tempat di dalam kamar Raja inilah posisi paling dalam dari hati, intisari hati. Betapa dalam posisi lubb, sebagaimana hati para Nabi.

Demikian ini, hati manusia. Berlapis masuk ke dalam, seperti halnya Istana Raja. Halaman, alun-alun, pendopo, kamar Raja dan tempat di dalam kamar Raja sebagai ibarat hati. Semakin kedalam semakin tersembunyi, berlapis-lapis ketersembunyiannya. Semakin terang pada lapisan paling dalam semakin menerangi seluruh lapisan sebelum-sebelumnya.

Komentar