Tayangan Gosip: Cara Menguak Aib dan Kejelekan Menjadi Tontonan



Bila kita menyaksikan televisi setiap hari, sepanjang 24 jam, beragama program sili-berganti tanpa henti. Apa yang disuguhkan TV seolah sudah menjadi menu dalam keseharian. Menu untuk kita saksikan, untuk kita tonton. Peran serta perkembangan teknologi informasi sebagai capaian manusia modern pada satu sisi mendatangkan manfaat. Pada sisi yang lain malah menjadi belenggu manusia itu sendiri.

Hadirnya TV beserta beragam progam yang ditayangankan, bagi ‘penonton setia’ lebih nyaman duduk menonton dan mempercayai dari apa yang diberitakan. Ketimbang duduk dan mendengarkan pitutur guru, pengajian di majelis taklim, berdiskusi wacana dan pemikiran serta merumuskan jalan keluar.

Pergeseran lain yang terjadi adalah tidak adanya jeda waktu untuk menelaah informasi. Sebabnya, setiap detik informasi yang terwartakan terus menerus berganti. Masalah bukan malah menjadi jelas, justru menjadi rumit, tidak tau mana yang benar dan mana yang salah.

Dari beragam program yang diwartakan TV diantaranya adalah berupa informasi hiburan atau infotainment. Berisi berita informasi seputar selebriti, orang-orang terkenal, artis, kaum sosialita, kaum ibukota, hingar-bingar metropolitan. Isi dari infotainment lebih cenderung mewartakan desas sesus, hal pribadi, kasus, berita miring, atau lebih terpusat menjadi gosip. Gosip tentang hal apa saja dari orang-orang terkenal.

Sebagian orang menonton acara gosip ‘menyenangkan’, atau lebih spesifik lagi membicarakan orang lain adalah cara manusia untuk memenuhi rasa keingintahuan pada umumnya. Tetapi, mengapa tayangan gosip laris manis? Sebab manusia itu cenderung untuk selalu ingin tau urusan orang lain. Sekecil apa pun urusannya, sepele apa pun, apalagi terkait sosok terkenal dari artis idola.
Gosip kadang sengaja dimunculkan untuk mendapatkan populeritas. Sesering ia digosipkan semakin menampakkan dirinya pada khalayak, bahwa subjek yang digosipkan masih diperhitungkan. Namun, ada yang menanggapi gosip justru menjadi cambuk bagi dirinya sendiri, ketika informasi yang tersiar terlanjur lebih dulu diamini tanpa kritik oleh masyarakat penonton.

Bila semakin hari semakin dipercayai gosip yang beredar, menandai semakin banyaknya hal yang dibuat-buat. Menjadikan gosip itu sendiri sebagai wajah dari apa yang sebenarnya terjadi. Padahal informasi itu dibuat-buat. Seolah menjadi pembenaran adanya sebuah peristiwa menyangkut pada subjek yang diberitakan. Sedangkan apa yang dialamai, belum tentu benar seperti yang terberitakan.
Gosip disini diartikan sebagai pergunjingan atau dalam bahasa agama disebut Ghibah. Diartikan pada padanan antara keduanya (gosip = ghibah) mengindikasikan hal yang sama, yaitu membicarakan orang lain yang belum tentu kebenaranya. Jadi kesenangan orang untuk membuka aib saudaranya dan kebiasaan masyarakat menjadi gejala dari masyarakat penonton gosip.

Gosip sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Dalam kehidupan masyarakat ada semacam perbuatan serupa dengan gosip, namun memiliki nama yang berbeda. Istilahnya adalah ngerasani (dalam Bahasa Jawa). Ngerasani sama halnya dengan gosip, dalam artian membicangkan orang lain. Bahan rasan-rasan dapat muncul dari mana saja, dari sepengamatan sesaat, cerita dari mulut ke mulut, sampai pada tuduhan yang tak berdasar. Semua hal bisa menjadi bahan rasan-rasan. Tanpa tersadari ngerasani dapat terjadi secara tiba-tiba, ketika bergumul dengan tetangga, dikala waktu senggang, ataupun pada kesempatan lain yang memungkinkannya dua orang ataupun lebih membincangkan orang lain.

Ngerumpi juga sejenis dengan ngerasani. Apa yang di-rumpi-kan tentu terkait dengan orang lain. Umum terjadi ngerumpi jatuh pula membicarakan orang lain. Jadi, gosip, ngerasani dan ngerumpi mudah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hasrat manusia cenderung ingin tau dan senang membicangkan aib dan kejelekan orang lain.

Komentar