Rabu, 20 Maret 2013

Pendidikan Berkesadaran ala Freire


Ditengah kondisi pendidikan negeri ini yang tak kunjung dapat menjadi jalan keluar persoalan bangsa. Barangkali ada keinginan untuk melihat bagaimana pendidikan yang telah dan yang akan datang apakah telah menempatkan manusia sebagai individu yang merdeka atas kemanusiaannya? atau hanya sekedarnya saja menjalankan amanah konstitusi?. Maka dari itu disini coba menyampaikan bagaimana gagasan yang dirancang oleh salah satu tokoh pendidikan asal Brasil, Faulo Freire (1921-1997). Freire menawarkan konsep pendidikan yang memerdekaan manusia untuk keluar dari belenggu penindasan. Bukan sekedar menempatkan proses pendidikan sebagai ajang membentuk siswa didik sebagaimana kemauan pendidik, tetapi bersama-sama keluar dari keterjajahan sistem dan struktur yang menindas.

Untuk membangun proses itu, Fraire mendeskripsikan beberapa kesadaran proses perkembangan seorang individu. Freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga. Pertama, kesadaran magis (magical consciousness) yakni kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Kedua, kesadaran naif (naival consciousness) lebih melihat bahwa aspek manusialah yang menjadi penyebab masalah dalam masyarakat. Ketiga, kesadaran kritis (critical consciousness), kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. (kata pengantar Alfred Alschuler, dalam William A. Smith, Conscientizacoa Tujuan Pendidikan Paulo Freire, 2001).

Untuk menggambarkan kesadaran ini, disini coba disampaikan berdasarkan pada pengamatan pribadi. Ketika masih duduk dikelas 6 SD pada tahun 1998, Reformasi sedang bergejolak di Indonesia. Kondisi waktu itu tidak begitu dimengerti, bagaimana pergolakan yang sedang terjadi. Ada banyak hal yang belum diketahui termasuk diantaranya adalah soal rezim, otoriter dan mahasiswa. Kata-kata itu seperti halnya benda asing, sebab belum mengenal dan diperkenalkan disekolah. Pada posisi ini, pendidikan yang diajarkan dapat diistilahkan disini adalah seperti bagaimana cara membuat sesuatu dengan bahan dasar tanah liat. Tanah liat di ibaratkan sebagai murid atau anak didik. Maka dari itu, bagaimana bentuknya nanti, tergantung dari proses pembelajaran yang berlangsung dan bagaimana pendidik mengarahkan selama menempuh di bangku sekolah. Jadi dapat dilihat bagaimana hasilnya, murid seolah tanah liat yang dapat dibentuk apa saja. Jika sistem pendidikan tidak memijak pada konstruk berfikir memanusiakan manusia, hasilnya akan takkaruan sangat mungkin terjadi.

Setelah lulus SD, melanjutkan pendidikan kejenjang Sekolah Lanjut Tingkat Pertama. Setelah tiga tahun berselang, lulus, kemudian masuk pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Masa itu sedikit banyak sudah diperkenalkan dengan banyak pengetahuan, diantaranya adalah bertambahnya mata pelajaran yang diajarkan. Masa-masa ini, dapat diartikan sebagaimana keberadaan gelas kosong yang dapat di isi air apa saja, sampai penuh dan meluap sekalipun bisa saja dilakukan. Masa dimana mulai memasuki kedewasaan, sehingga ada banyak hal yang kadang dilakukan sekedar untuk eksis, galau-dalam bahasa sekarang-terkadi. Tidak banyak mempertimbangkan ekses tindakan yang diambil juga kadang dilakukan. Ditengah kondisi seperti ini, perlu pendampingan spikologis dalam membatu mengarahkan kedapannya. Apa jadinya bila tidak mampu menempatkan posisi, yang terjadi bisa dilihat kenakan remaja, geng, terbentuk dengan sendirinya. Kenyataan ini dapat kita lihat sekarang ini. Tawuran anak sekolah, geng-geng anak sekolah sering kali terdengar dan mewarnai pemberitaan.

Memasuki pendidikan di bangku kuliah, ada perubahan yang mencolok. Paling tidak perubahan itu terjadi dalam pola pikir dalam bersikap dan bertindak. Sebagaimana idealitas mahasiswa, sebagai kaum terdidik dan kritis, sangat mempengaruhi kondisi individu sebagai sosok manusia. Tidak sekedar menerima begitu saja, tetapi telah terbangun argumentasi untuk menjawab problem kedirian ataupun dalam memahami realitas yang terjadi. Kondisi ini bertalian pada kedewasaan di satu sisi dan banyaknya cakrawala yang sekaligus juga menambah wawasan pengetahun pada sisi lain. Lebih-lebih pada bertambahnya referensi bacaan dan penguasaan teknologi didapat melalui usaha diri sendiri. Ketergantungan pada subjek pendidik tidak begitu besar, lebih besar pada proses pencarian sendiri. Kondisi ini berbeda cukup signifikan dengan awal mulai mengenyam pendidikan di SD kemudian berlanjut di SLTP dan SMA. Maka dari itu, mahasiswa cenderung lebih banyak mempertanyakan dibandingkan hanya sedekar mendengar ataupun menerima jawaban begitu saja. Namun kondisi sekarang ini pun, tidak selamanya seperti gambaran kebanyakan mahasiswa idealnya, tidak jarang mahasiswa hanya sekedar kuliah-kos-kantin.

Membaca kesadaran ala Freire dari apa yang sudah dikemukakan diatas, bisa menjadi cermin bagaimana kesadaran itu berada dan bertautan dengan proses pendidikan formal-dalam konteks khusus disini-yang ada, mulai dari tingkat dasar sampai bangku kuliah. Perkembangan kesadaran tercermin dari bagaimana individu itu berhadap dengan proses pengajaran yang mereka dapatkan. Sangat jarang diketahui kenakalan anak-dalam arti kenakalan sewajarnya-tidak sampai berani menyanggah apa yang telah diberikan. Menyanggah untuk menanggapi apa yang didapat ternyata telah usang dan itu-itu saja. Memberikan model pendidikan seperti mendikte teks pelajaran akan dikerjakan dengan senang hati. Padahal teman mereka sendiri yang membacakan. Masa anak-anak memang lebih banyak diberi waktu luang untuk bermain, namun bukan pula menjadikan mereka seperti halnya tanah liat untuk dibentuk apa saja. Jangan sampai malah mirip mencontoh kekhasan orang lain sebagai guru mereka. Sampai-sampai mengekor sama persis dengan apa yang ia anggap adalah jagoannya. Jika demikian, ia berada pada kondisi “menyerupai” atau berada pada kesadaran magis.

Kesadaran magis identik dengan menyerupai apa-apa yang telah dikenal. Bahwa, anggapan segalanya memang sudah dari sononya, menandakan bahwa ia tidak mampu mengkomunikasikan satu entitas dengan entitas lainnya. Dalam hal ini, misalnya, bagaimana kepribadian si anak dengan model pembelajaran yang ia terima disekolah, pergaulan dilingkungan serta keseharian dirumah tinggal, ternyata sama sekali tidak menjadi sebab. Jika menilai sebagai sesuatu yang wajar, maka ia menganggap bahwa kekuatan natural ataupun supra-natural yang telah mengatur semua ini. Perubahan akan terjadi bila kekuatan itu berubah, selebihnya tidak. Faktor disekolah, sosial dan dikeluarga tidak dianggap mempengaruhi dalam membangun kesadaran posisi si anak. Dengan begitu bukan faktor luaran itu yang mempengaruhi kondisi, tetapi ketakmampuan diri melihat keterkitan banyak faktor yang mengakibatkan keasadaran hanya beroreintasi semata untuk “menyerupai”.

Pada kesadaran naif, yang menjadi masalah terletak pada manusianya itu sendiri. Manusia sebagai sumber penyebab bisa jadi kerena ia tak mampu menangkap informasi, pengetahuan dan kapasitas diri. Menyerahkan sepenuhnya berubah atau tidaknya kondisi tergantung dari kualitas manusia, maka dengan begitu tak ada jalan keluar. Sebab individu itu telah menjustifikasi keadaannya sendiri. Kondisi seperti ini bisa saja sebagai keadaan dari oudifus complex, rasa rendah diri yang sangat, yang tak mampu dieksprolasi menjadi kekuatan-kekuatan modal untuk berubah. Rasa rendah diri yang sangat berdampak dan menjalar pada kekuatan spikologis. Bila demikian ini keadaannya, maka sulit untuk menumbangkan rasa itu, selama diri kurang percaya pada kemampuan sendiri untuk merubahnya.

Meski ada usaha-usaha untuk melakukan perubahan, misalnya-seperti gambaran diatas-les pelajaran dan pendampingan spikologis sewaktu duduk di bangku SLTP dan SMA. Efek yang timbul sekedar “memperbarui” dalam bersikap dan bertindak dalam kasus tawuran, geng anak-anak sekolah, aksi kekerasan siswa yang terjadi. Hal yang dikerjakan untuk memulihkan keadaan kadang dengan memberikan contoh bagaimana seharusnya, nasehat-nasehat dan pemanggilan orang tua. Satu dua kali atau sehari dua hari perubahan terlihat, namun dalam waktu yang panjang kondisi akan kembali seperti semula. Kondisi seperti ini tetap saja menempatkan manusia sebagai penyebab permasalahan.

Proses perkembangan invdividu selanjutnya adalah kesadaran kritis. Kesadaran kritis menempatkan kondisi luara yang menjadi penyebab realitas yang terjadi saat ini. Sistem dan sturktur yang ada mengkonstruksi untuk bagaimana sejalan dengannya. Proses perubahan juga berbeda dengan dua keasadaran sebelumnya. Bila keasadaran magis “menyesuaikan”, kesadaran naif “memperbarui”, kesadaran kritis adalah “mengubah”. Mengubah cara berfikir individu, mengubah cara pandang bahwa sistem dan struktur yang menyelimuti keadaan sebagai faktor utama realitas.

Selaian kemampuan membaca keadaan untuk menganalisisnya, bukan hanya sekedar melihatnya sebagai sebuah nilai, tetapi juga bagimana kerja operasionalnya dalam membentuk keadaan masyarakat. Misalnya, bagaimana kapitalisme kini mulai mengoperasional dalam dunia pendidikan. Hasilnya pendidikan ternyata bukan sejenak membentuk pribadi kritis, namun sebagai lumbung pekerja untuk memenuhi kebutuhan pasar. Arus global yang menjadikan gerak bersama, mau tak mau realitas-termasuk di dalamnya dunia pendidikan-masuk bergerak dalam sistem pasar bebas. Seiring dengan liberalisasi pendidikan, ternyata turut membentuk sistem perkuliah yang menuntut kehadiran mahasiswa 75 % dikampus. Keadaan ini memaksa mahasiswa untuk patuh, duduk termenung, tanpa ada proses interaksi dengan tugas intelektualnya dimasyarakat. Nongkrong di tempat hiburan maupun di café-café lebih banyak dilakukan, dibandingkan duduk berkelompok berdiskusi.

Tawaran yang diharapkan sebagai usaha untuk “mengubah” kadang terjadi hanya sekedarnya, tidak begitu mendalam, rapuh pada dasar pemikiran yang dibangun. Kehidupan hedonis-konsumeris tampil kepermukaan menjadi gambaran real mahasiswa. Bagaimana mampu berposisi sebagai kalangan terdidik, kritis mengedepankan intelektualitas jika ternyata hanyut dalam struktur operasional yang berjalan saat ini?. Posisi dimelatis ini, tidak sepenuhnya berlaku umum terjadi dikalangan mahasiswa. Ada beberapa kelompok mahasiswa tetap dalam posisi oposan, kritis, anti kemapanan dan tak larud dalam arus kekinian. Kelompok-kelompok ini masih dapat ditemui di organisasi gerakan mahasiswa. Kantong-kantong gerakan inilah menjadi salah satu lumbung generasi-generasi intelektual yang kritis menyikapi sistem dan struktur yang membelenggu kehidupan masyarakat. Kesadaran kritis mewajibkan sebuah perubahan besar (Revolusi), agar penindasan yang terus berlangsung berkesudahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar